Friday, December 12, 2008

Bayangan Gelap

Aku tak pernah memikirkan, seberapa besar aku bisa tegar. Kadang-kadang keadaan yang bertolak belakang ini seperti sebuah tangan yang mengepal dan menghancurkan kepalaku dari belakang, agar aku menoleh dan sadar jalan mana yang awalnya sudah kutelusuri lebih dulu. Aku pernah bisa menghirup udara segar dan bernapas dengan segenap paru-paruku, bisa menatap matahari siang dan mengamati cinta-cinta merah mudaku bertebaran disekelilingku dengan baik.Aku bisa menggunakan panca inderaku dengan sesuka hatiku, karena Tuhan menakdirkan itu. Aku sudah menguburkannya dalam-dalam, sedalam yang aku mampu. Daya tangisku kurang sempurna untuk dapat mengaisnya bangkit dan menghampiriku. Aku sendiri tak punya sayap,dan aku bersyukur karenanya, sehingga aku berulang kali tak bisa menemuinya dimana ia sekarang. Tapi rupanya ingatan dan perasaan akan lebih bermanfaat daripada sebuah sekop untuk menggali atau pisau untuk mengiris. Saat sebuah hebusan yang tak kuinginkan menyergap sepoi-sepoi ketelingaku, aku akhirnya mengakui, aku masih sangat rapuh. Hanya sekali saja, dan lubang dalam hatiku menganga lebar, dan isinya meluap naik kepermukaan bumi. Usahaku membenam segalanya kembali sia-sia. Aku tak menyangka, dia begitu sama denganku. Sama menderitanya, sama merananya, dan sama terkejutnya, akan kehadiran sebentuk bintang kecil dalam gelapnya hari-hari kami. Aku tertawa. Pertama kali mendengarnya tentu aku tertawa. Dia ternyata lebih rapuh dari yang kuduga. Sebentar saja berbincang denganku, racunnya sudah menyebar merasuk nadinya. Kalau aku salah, maafkan aku menyebarkan cinta itu padanya. Akhirnya, meski bayangan gelap kecintaanku itu tak juga kuungkap padanya, dia sudah lebih dulu menyatakan siapa bunga tidurnya padaku. Aku terkesan, ia berani mengungkapkan rasa hatinya padaku. Aku mendengarkan betapa dia menyesal cintanya tak terbuka untuk si bunga cantik itu dulu.. Aku tak menyesal, saat kulihat kebelakang, kusadar bayangan gelap masih menaungi jalanku. Ia semakin lama semakin pekat dan semakin menyiksaku. Tapi aku menimatinya, setiap detiknya. Setiap sensasi cumbuan dan kecintaanku padanya. Aku sadar aku jauh dari sempurna untuk mendapatkannya, juga tidak lagi terbuka untuk itu. Tapi aku menikmati setiap sensasi bercinta dalam anganku itu dengannya. Setiap tatapan tajamnya, suara dalamnya, setiap amarah dan gairah nakalnya. Setiap kecemburuan yang dibuat-buatnya untuk meyakinkan aku bahwa ia takkan kemana-mana. Aku menikmati itu..